Tuesday, 2 July 2013

Karya Tulis "Peran Orang Tua Terhadap Prestasi

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Secara garis besar manusia terdiri atas dua aspek, yaitu aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani meliputi antara lain tinggi dan besar badan, panca indera, anggota badan, kondisi dan peredaran darah, dan lain-lain. Aspek rohani meliputi kecerdasan, bakat, kecakapan hasil belajar, sikap, minat, motivasi, emosi dan perasaan, watak, kemampuan sosial, dan lain-lain. Berdasarkan aspek-aspek itulah orang tua hendaknya bisa memahami kondisi anak yang sudah bersekolah. Tidak jarang pula banyak anak yang kadang jenuh atas beban-beban tugas sekolah yang ia hadapi. Orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan semangat dan mengembalikan gairah untuk belajar.
Setiap siswa tentu juga memiliki keingingan untuk mengeksplor dirinya, terutama pada masa remaja. Pada tahap inilah peran serta orang tua juga sangat penting untuk membimbing siswa agar tidak salah mengambil langkah dalam mengembangkan diri.
Pada saat ini, berdasarkan fakta di lapangan, siswa yang mendapatkan perhatian dari orangtuanya cenderung lebih aktif dan kreatif dibanding anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtuanya (broken home).
Namun, apabila seorang anak selalu ditekan maka dia justru akan memiliki mental yang tidak sehat. Apalagi kalau dengan sederet peraturan yang mengekang mereka. Sebagai orang tua yang membimbing anaknya agar berprestasi dengan baik hendaknya selalu membedakan antara gengsi dengan kebutuhan orang tua.
Oleh karena itu, orang tua perlu berhati-hati dalam membimbing anaknya agar tidak menjadi anak yang penakut, pasif, kurang pergaulan sehingga menyulitkan mereka untuk meraih prestasi.


B.    TUJUAN
Tujuan pembuatan karya tulis, adalah:
1.     Memenuhi tugas akhir sekolah bidang studi Bahasa Indonesia.
2.     Untuk lebih mengetahui peran orang tua dalam pencapaian prestasi siswa.
3.     Untuk mengetahui hal-hal yang dapat dilakukan serta dihindari oleh orangtua agar siswa dapat meraih prestasi.
4.     Untuk mengetahui berbagai metode yang dapat diterapkan oleh orang tua dalam mendidik anak.
5.     Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan sekaligus menghimbau agar pembaca dapat menyebarluaskan hasil makalah yang dibuat oleh penulis, sehingga akan muncul rasa kepedulian terhadap prestasi siswa.


C.    PERUMUSAN MASALAH 
Berikut ini penulis mengungkapkan beberapa masalah, antara lain:
1.     Apa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi siswa?
2.     Apa peran orang tua terhadap prestasi siswa?
3.     Apa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan prestasi siswa?
4.     Apa hal yang perlu dihindari oleh orang tua untuk meningkatkan prestasi siswa?
5.     Apa metode pendidikan yang dapat diterapkan pada siswa?

Dari beberapa permasalahan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan, sebagai berikut:

“ Apakah orangtua berperan terhadap prestasi siswa dan apa perannya?”.



D.   METODE PENGUMPULAN DATA
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini, adalah:
·        Metode deskriptif:
Yaitu penulis mengambil sumber informasi dari berbagai sumber (buku, makalah, internet dan  berbagai sumber lainnya yang membahas mengenai peran orang tua terhadap prestasi siswa).


E.    SISTEMATIKA PENULISAN

A.    Lembar pengesahan
B.     Kata pengantar
C.     Daftar isi
D.    Bab 1. Pendahuluan
E.     Bab 2. Pembahasan
F.     Bab 3. Penutup

G.LANDASAN TEORI

*    Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun social
Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia

*    Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anakjuga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua,
Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia

*    Siswa/Siswi adalah istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia

*    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia
*    Menurut Ki Hajar Dewantara, selaku Bapak Pendidikan Indonesia: “Pendidikan harus dilakukan secara kooperatif antara keluarga, sekolah dan masyarakat”.
Sumber: www.wikipedia.com

*    Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi:
“Pendidikan adalah tangungjawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Sumber: www.wikipedia.com


BAB II
PEMBAHASAN

1.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Siswa
Menurut Crow yang dikutip oleh Johny Killis ( 1988 : 26 ) Ada tiga faktor yang menimbulkan minat siswa dalam mendapatkan prsetasi yaitu:
1).    Faktor kebutuhan dari dalam           
          Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2).    Faktor motif sosial
          Timbulnya minat dalam diri seseorang dapat didorong oleh motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, penghargaan dari lingkungan dimana ia berada.
3).    Faktor emosional
          Faktor yang merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh perhatian terdapat suatu kegiatan / objek tertentu ( 1980 : 12 )

Berdasarkan uraian di atas, salah satu faktor yang juga dapat menimbulkan minat siswa dalam mendapatkan prestasiadalah yaitu orangtua. Hal tersebut berkaitan dengan faktor motif sosial dan faktor emosional.
Berdasarkan faktor motif sosial, seorang siswa memiliki kebutuhan untuk mendapat pengakuan dan pujian dari orang tua. Hal tersebut berpengaruh terhadap psikologis anak anak dapat memotivasi anak untuk meraih keberhasilan.
Selain itu, orang tua juga berkewajiban memotifasi siswa agar berprestasi, hal ini sejalan dengan faktor emosional dimana seorang anak akan merasa senang jika target yang dibuat oleh siswa itu sendiri ataupun orangtua mereka tecapai.
Oleh sebab itu, orangtua perlu berhati-hati dalam mendidik siswa agar kelak ia dapat mengukir prestasi guna meraih cita-citanya di masa yang akan datang.





2.   Peran Orang Tua Terhadap Prestasi Siswa

1.     Sebagai motivator.
Motivasi merupakan dorongan agar seseorang melakukan suatu tindakan / kegiatan. Motivasi belajar sebaiknya ditanamkan sejak anak berusia dini. Namun sayang, orang tua selalu salah langkah dalam memformat pendidikan anak sehingga mematikan daya ingin tahu anak dan kreativitas anak. Orangtua cenderung marah ketika dimasa kecil anaknya cerewet banyak bertanya secara terus – menerus bahkan tidak rasional. Padahal, pada saat itu anak sedang membangun pengetahuannya berdasarkan kemampuan otaknya, namun orangtuanya memadamkan rasa ingin tahunya .
Atau, orangtua cenderung marah ketika dinding rumahnya penuh coretan atau rumahnya berserakan dengan permainan anaknya. Padahal, saat itu anak sedang membangun kreativitasnya dan mengaktualisasikan interpersonal intelegensinya dalam bermain.
Jika hal – hal kecil seperti di atas terbunuh oleh kemalasan dan ketidaksabaran orang tua, wajar jika kelak anak di sekolah takut bertanya, takut memberi tanggapan maupun komentar, takut bereksperimen dan selalu bersikap diam tak bereaksi ketika proses pembelajaran berlangsung . Sehingga dalam proses pembelajaran siswa cenderung pasif mendengar dan menunggu. Inilah buah pendidikan pertama di keluarga yang sangat merugikan pendidikan anak. 
2.     Sebagai teladan.
Pada masa pertumbuhannya, anak/siswa tentu akan mencontoh atau meniru hal-hal yang sering dilihat, didengar atau diberikan padanya, perilaku ini dikenal dengan imitasi. Misalnya, jika anak sering menonton film laga, besar kemungkinan bahwa anak/siswa akan mencoba berkelahi baik dirumah ataupun disekolah.
Dalam hal ini, orangtua merupakan tokoh yang paling berpengaruh, karena orangtua adalah orang terdekat yang dimiliki oleh seorang anak/siswa. Maka dari itu orang tua harus memperlihatkan pada anak sikap yang positif, seperti membantu sesama, menghormati orang dan berbagai hal positif lainnya.
Namun, terkadang orangtua tidak sadar bahwa ia telah menanamkan karakter yang tidak baik pada anak. Contohnya saat seorang ayah dan ibu  bertengkar di depan anak/siswa. Hal tersebut dapat membuat anak/siswa depresi dan ia menjadi terbiasa dengan perkelahian.

3.    Sebagai fasilitator.
Fasilitas belajar dapat berupa meja belajar, tempat / kamar belajar, lampu belajar dan suasana belajar. Jika orang tua menginginkan anaknya betah belajar dan nyaman dalam belajar, maka fasilitas belajar yang nyaman harus disediakan. Bagaimana mungkin anak akan betah belajar jika ketika ia belajar suara keluarga lainnya tertawa gembira menonton acara televisi, meja belajar tidak ada serta lampu belajarpun menyakitkan / menyilaukan mata. 
Disamping itu, orangtua sebaiknya mengetahui modalitas belajar anak, sehingga orangtua dapat memfasilitasi kebutuhan belajar anak.

4.     Sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.
Ilmu yang diterima oleh siswa bias didapat dari berbagai sumber, salah satunya adalah orangtua. Maka dari itu, hendaklah orangtua bersedia dan siap menjadi sumber ilmu bagi siswa. Dalam hal ini, orangtua tentunya harus memiliki wawasan yang cukup luas agar keingintahuan anak akan suatu hal dapat terjawab.
5.     Sebagai koordinator.
Layaknya sebuah proyek pembangunan. Tidak jarang fasilitas-fasilitas yang diberikan justru disalahgunakan oleh pekerja, seperti korupsi, kelalaian, dan berbagai masalah lainnya. Hal ini juga dapat terjadi selama proses pembentukan karakter siswa menjadi seseorang yang berprestasi.
Fasilitas yang diberikan orangtua jika tidak disertai dengan pengawasan tentu saja berdampak buruk bagi siswa itu sendiri. Contohnya pemberian laptop/komputer yang digunakan untuk menonton video porno, bermain game online terus-menerus, bahkan berjudi di internet.
Itu semua tentu bukan hal yang diharapkan oleh orangtua. Maka dari itu, orang tua perlu melakukan pengawasan terhadap siswa agar semua fasilitas yang orangtua berikan dapat mempermudah proses belajar siswa bukan malah memperburuk kepribadian siswa itu sendiri.
Tapi, bagaimanapun siswa tentu saja memiliki privasi nya sendiri. Selama mengawasi anak/siswa, orangtua juga harus menjaga perasaan siswa dengan tidak menginterogasinya secara terus-menerus. Karena, hal tersebut dapat membuat siswa menjadi bosan dan merasa terkekang.


3.  Hal-Hal Yang Dapat Dilakukan Oleh Orang Tua Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil di masa depan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua agar memperoleh anaknya berhasil di masa depan. Dorongan motivasi dan perhatian dari orang tua juga penting agar anak merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang pasti akan terjadi dalam proses belajar. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
ü Memberikan semangat terhadap diri anak akan pentingnya suatu pendidikan untuk masa depan mereka.
Contoh: Menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang sukses dikehidupannya karena prestasi yang diraih oleh orang tersebut.
ü Memberikan pengharapan dan motivasi yang positif kepada siswa untuk selalu meningkatkan prestasi belajar mereka.
Contoh: Jika siswa menginginkan sesuatu (benda/liburan,dll) usahakanlah agar tidak langsung diberi, namum buatlah target pencapaian pada siswa.
ü Memberikan arahan yang jelas untuk masa depan anak-anak.
Contoh: Tanyakan pada siswa cita-citanya dimasa depan, lalu arahkan siswa agar dapat berprestasi dibidang yang akan menghantarkannya menuju impiannya.
ü Mengajarkan anak untuk menghargai cinta.
Contoh: Ajarkan siswa tentang cinta yang positif, termasuk mencintai pelajaran yang ia dapat disekolah.
ü Memberi anak pujian dan hukuman yang sehat.
Contoh: Saat melihat siswa sedang belajar, berikan pujian pada dirinya namun jangan terlalu membesar-besarkan agar siswa tidak terdidik menjadi seseorang yang angkuh. Sebaliknya saat anak melakukan kesalahan, usahakan orang tua tidak mengeluarkan kata-kata umpatan, penyesalan, sindiran dan sebagainya.
ü Mengajarkan siswa untuk meraih keunggulan.
Contoh: Pada saat siswa mendapat nilai yng rendah, orangtua sebaiknya tidak langsung membentak/memarahinya, namun berikan sugesti bahwa ia pasti bias mendapat nilai terbaik, berikan sugesti secara berulang.


4. Hal-Hal Yang Perlu Dihindari Oleh Orangtua Dalam Mendidik Anak
Setiap orang tua tentu ingin anaknya sukses. Akan tetapi tidak sedikit pula cara-cara pendidikan orangtua yang bahkan memberi dampak negatif bagi siswa itu sendiri. Secara umum, beberapa tanda bahaya yang harus dihindari pada orang tua dalam membimbing siswa belajar, adalah sebagai berikut:
o   Hindari Cinta Bersyarat pada Anak
Cinta bersyarat ini biasanya digunakan para orang tua untuk mengendalikan anak-anak mereka. Ketika anak meraka berhasil, mereka akan mengganjar keberhasilan tersebut dengan memberikan cinta mereka secara bebas bahkan bisa diekspresikan dalam bentuk pelukan dan ciuman. Tapi ketika anak mereka gagal. Mereka akan menghukum anak mereka sebagai luapan rasa kekecewaan. Pada tahap cinta ini, anak-anak hanya akan beranggapan bahwa mereka akan dicintai oleh orang tua atau semua orang lain, hanya jika sudah berhasil.
o   Pengharapan Orang Tua yang Tidak Sehat
Dalam hal ini orang tua haruslah mengerti benar apa itu target dan pengharapan. Target merupakan tujuan yang bisa atau tidak bisa dicapai oleh anak-anak. Ketika target tercapai anak-anak mereka sangat senang karena keberhasilan mereka bukan sesuatu yang pasti. Ketika target tidak tercapai, anak-anak merasa agak kecewa, tapi biasanya mereka puas dengan kemajuan yang berhasil mereka lakukan. Tentunnya pengharapan yang seperti ini akan merusak anak-anak jika pengharapan tidak tercapai
o   Pujian dan Hukuman yang Tidak Sehat
Sebagai orang tua, hendaknya mampu memilih dan memilah pujian dan hukuman terhadap prestasi belajar anak. Seorang anak yang dipuji kepandaiannya, bukan usahanya, akan menjadi terlalu terpusat pada hasil. Memuji anak-anak atas kepandaian mereka membuat mereka akan takut pada kesulitan karena mereka mulai menyamakan kegagalan dengan kebodohan. Begitupun cara orang tua menghukum anak. Orang tua lebih baik tidak memberikan kritik pribadi yaitu menyalahkan kemampuan seorang anak sebagai penyebab kegagalan mereka, menurunkan pengharapan mereka, memperlihatkan emosi negatif, dan berprestasi lebih buruk di masa depan.

o   Menjadi Orang Tua Target
Orang tua target yang dimaksud disini adalah orang tua yang memperlakukan anak-anak mereka seperti ”pegawai-pegawai kecil”. Biasanya orang tua yang seperti ini akan mengharapkan anak-anak mereka untuk berproduksi dalam bentuk prestasi dan keberhasilan. Secara otomatis, orang tua yang seperti ini adalah orang tua yang menempatkan penekanan yang terlalu besar pada hasil usaha berprestasi anak.
            Sedangkan secara rinci hal-hal yang sebaiknya dapat dihindari oleh orang tua dalam meningkatkan prestasi siswa, adalah sebagai berikut:
o   Jangan mengharapkan seorang anak memperoleh hal lain dari kegiatannya disamping waktu yang menyenangkan, dan lain-lain.

o   Jangan memperlihatkan emosi negatif ketika sedang menghadiri sebuah penampilan.

o   Jangan buat seorang anak merasa bersalah atas waktu, energi, dan uang yang orang tua gunakan.

o   Jangan melihat kegiatan anak sebagai sebuah investasi yang akan menghasilkan sesuatu.

o   Jangan mewujudkan impian kita (orang tua) sendiri melalui kegiatan seorang anak.

o   Jangan membandingkan kemajuan anak dengan kemajuan anak-anak lain.

o   Jangan mendesak, melecehkan, menggunakan sarkasme, mengancam, atau menggunakan rasa takut untuk memotivasi anak.

o   Jangan mengharapkan apa pun dan anak kecuali usaha terbaik dan perilakunya.

o   Jangan pernah melakukan apapun yang akan membuat anak memandang dirinya sendiri, atau orang tua.



5.    Metode Pendidikan Yang Dapat Diterapkan Pada Siswa

Pada masa pembentukan karakter, setiap siswa melewati beberapa tahap, yaitu balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Di setiap fase perkembangannya, siswa membutuhkan metode pendidikan yang berbeda-beda. Secara umum, metode tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.   Pada usia TK orangtua harus memberikan semangat dengan cara belajar sambil bermain.

b.  Pada usia SD cara belajar sambil bermain agak di kurangkan bermainnya.

c.   Pada usia SMP/sederajat peran orangtua memberikan semangat belajar dengan memberikan gambaran masa depan esok yang akan dihadapinya kelak.

d.  Pada usia SMA/sederajat peran orangtua harus lebih ketat mengontrol pergaulan anaknya karena pada masa SMA/sederajat akan lebih besar adrenalin rasa ingin tahu seorang anak kepada sesuatu.apalagi dalam masa puber ini sudah mengenal rasa suka dengan lawan jenis otomatis kegiatan belajar agak berkurang.

e.   Memasuki bangku perkuliahan biasanya paradigma seorang anak sudah mulai terbentuk untuk menghadapi masa depannya. Tentunya paradigma tersebut terbentuk dari masa2 kecilnya terdahulu.

Oleh karena itu, disepanjang proses pembelajaran seorang siswa, orangtua tidak biasa menggunakan metode penidikan yang sama. Selain itu, orangtua juga harus mengetahui sejauh mana mereka dapat mengaplikasikan setiap metode yang digunakan dalam mendidik anak, karena sebuah metode jika digunakan dalam jangka waktu yang terlalu lama dapat membuat siswa itu sendiri merasa bosan.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

“Orangtua memiliki peran yang sangat penting terhadap prestasi siswa.”
Faktor yang mendukung tercapainya prestasi seorang siswa adalah:
·        Faktor kebutuhan dari dalam    
·        Faktor motif sosial
·        Faktor emosional

Sedangkan peran orangtua dalam pencapaian prestasi seorang siswa, adalah sebgai berikut:
Ø Sebagai motivator.
Ø Sebagai teladan.
Ø Sebagai fasilitator.
Ø Sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.
Ø Sebagai koordinator.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk meningkatkan prestasi anak, diantaranya:
ü Memberikan semangat terhadap diri anak akan pentingnya suatu pendidikan untuk masa depan mereka.
ü Memberikan pengharapan dan motivasi yang positif kepada anak untuk selalu meningkatkan prestasi belajar mereka.
ü Memberikan arahan yang jelas untuk masa depan anak-anak.
ü Mengajarkan anak untuk menghargai cinta.
ü Memberi anak pujian dan hukuman yang sehat.
ü Mengajarkan anak untuk meraih keunggulan.
Sebaliknya, hal-hal yang sebaiknya dihindari orangtua dalam mendidik anak secara umum, adalah sebagai berikut:
o   Cinta Bersyarat pada Anak
o   Pengharapan Orang Tua yang Tidak Sehat
o   Pujian dan Hukuman yang Tidak Sehat
o   Menjadi Orang Tua Target
Sedangkan secara rinci hal-hal yang sebaiknya dapat dihindari oleh orang tua dalam meningkatkan prestasi siswa:
o   Jangan mengharapkan seorang anak memperoleh hal lain dari kegiatannya disamping waktu yang menyenangkan.
o   Jangan memperlihatkan emosi negatif ketika sedang menghadiri sebuah penampilan.
o   Jangan buat seorang anak merasa bersalah atas waktu, energi, dan uang yang orang tua gunakan.
o   Jangan melihat kegiatan anak sebagai sebuah investasi yang akan menghasilkan sesuatu.
o   Jangan mewujudkan impian kita (orang tua) sendiri melalui kegiatan seorang anak.
o   Jangan membandingkan kemajuan anak dengan kemajuan anak-anak lain.
o   Jangan mendesak, melecehkan, menggunakan sarkasme, mengancam, atau menggunakan rasa takut untuk memotivasi anak.
o   Jangan mengharapkan apa pun dan anak kecuali usaha terbaik dan perilakunya.
o   Jangan pernah melakukan apapun yang akan membuat anak memandang dirinya sendiri, atau orang tua.
Metode pendidikan yang dapat diterapkan oleh orang tua berdasarkan tingkat pendidikan yang dijalani oleh anak, adalah sebagai berikut:
·        TK             :Memberikan semangat dengan cara belajar sambil bermain.
·        SD            :Cara belajar sambil bermain agak di kurangkan bermainnya.
·        SMP         : Memberikan semangat belajar dengan memberikan gambaran masa                   depan esok yang akan dihadapinya kelak.
·        SMA         :Lebih ketat mengontrol pergaulan anaknya.
·        Kuliah      :Paradigma seorang anak sudah mulai terbentuk untuk menghadapi                                   masa depannya.

B. SARAN
Karena orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi siswa, dalam hal ini peran aktif orangtua sangat dibutuhkan. Untuk itu penulis menyarankan kepada orang tua, sebagai berikut:
1.     Mengikuti perkembangan belajar siswa.
2.     Memberikan motivasi dan pengharapan yang positif.
3.     Memberikan fasilitas yang dibutuhkan siswa untuk menunjang pendidikan.
4.     Melakukan pengasawan terhadap siswa.
5.     Menjadi teladan bagi siswa.
6.     Ikut membimbing siswa dalam proses belajar.
7.     Memberi arahan mengenai masa depan yang ingin dicapai oleh siswa.


DAFTAR PUSTAKA

·        Ath-Thawil, M. Ali ghanim. 2010. Mencetak Pribadi Magnnetis. Solo: Era Adicitra Intermedia.
·        Yusuf Munawir. 2003. Pendidikan Anka Dengan Problema Belajar. Solo: Tiga Serangkai.
·        Istiqomah Umi. 2004. Merawat dan Mendidik Anak. Sukoharjo: Widya Duta.
·        Hubbard Ron L. 2002. Study Skills For Life. Jakarta: Gramedia Widasarana Indonesia.
·        WWW. Wikipedia.com

No comments:

Post a Comment